<p style="text-align: justify;"> Tantangan kegiatan koperasi pascabom Kuta serta perang AS-Irak saat ini semakin berat. Sebab perisitiwa tersebut telah melumpuhkan pariwisata yang menjadi urat nadi ekonomi masyarakat. Menurut Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Kuta Mimba, I Wayan Badra, S.H. yang juga Ketua Dekopinda Badung disela-sela rapat anggota Kamis (27/3) kemarin sebenarnya dalam kondisi normal saja koperasi sudah banyak menghadapi tantangan dalam melancarkan kegiatan usahanya.</p> <p style="text-align: justify;">  </p> <p style="text-align: justify;"> Selain SDM juga banyak koperasi kekurangan modal untuk pengembangan usahanya. Pemerintah yang diharapkan bisa menjadi penyelamat khususnya dalam peningkatan SDM dan modal sejauh ini perannya belum begitu besar. Kini dengan terpaan bom Kuta dan perang Irak-AS yang berkecamuk, menurut Badra semakin mempersulit kehidupan koperasi. Dikatakan selama ini banyak koperasi harus menggalang modal dari anggotanya. Ini ke depan akan memberatkan anggota apalagi saat ekonomi lagi sulit. ”Bayangkan ada koperasi yang mewajibkan simpanan wajib yang cukup besar dari anggotanya,” jelasnya. Untuk itu, dia berharap pemkab Badung bisa membantu, setidaknya memfasilitasi koperasi untuk mendapatkan modal usaha. Dikatakan untuk KSU Kuta Mimba yang sebelum krisis ekonomi tahun 1997 silam mampu tumbuh pesat, mulai mengalami gangguan saat krisis terjadi. </p> <p style="text-align: justify;"> Bahkan kemudian adanya peristiwa bom Kuta dan kini perang, telah membuat kondisi koperasi semakin terganggu.”Memang tak terlalu parah, namun kalau perang terus berlangsung dan turis sedikit yang datang jelas nantinya akan mengganggu kegiatan koperasi,” tambahnya.</p> <p style="text-align: justify;">  </p> <p style="text-align: justify;"> Menurut Badra yang telah 20 tahun mengomando koperasi itu, nafas koperasi sangat dibantu dari kegiatan pariwisata.Kalau pariwisata jalan normal, ekonomi masyarakat akan membaik. Maka besar pula kontribusinya bagi koperasi baik selaku peminjam maupun penabung. ”Namun saat pariwisata lesu, ekonomi mereka juga turun dan koperasi ikut terkena dampak,” ujarnya.</p> <p style="text-align: justify;">  </p> <p style="text-align: justify;"> Hal itu terlihat dari volume usaha yang turun sampai 7,7 persen tahun 2002 yakni menjadi Rp 20,2 milyar dibandingkan tahun 2001 sebesar Rp 21,9 milyar. SHU (Sisa Hasil Usaha) juga ikut turun. Tahun 2002 SHU hanya Rp 723 juta sedangkan tahun 2001 sampai Rp 806 juta. ”Untungnya aset tetap naik yakni dari Rp 18,038 milyar menjadi Rp 18,490 milyar tahun 2002,” jelasnya.</p> <p style="text-align: justify;">  </p> <p style="text-align: justify;"> Melihat kondisi sekarang ini yang sulit diprediksi, Badra berharap loyalitas anggota serta kerja keras pengurus sangat diperlukan. ”Hanya dengan loyalitas itu koperasi ini bisa tumbuh,” ujarnya. Sebab ke depan tantangan semakin berat,baik karena era pasar bebas juga perang yang sulit diprediksi kapan berakhir.</p>
Berat Tantangan Koperasi Pascabom
10 Jul 2013